Navarin Karim: Pemilih Cerdas Secara Kuantitatif Untuk Menguatkan Hati Nurani

WARTAJAMBI.COM: OPINI - Pedoman memilih secara cerdas memang belum ada yang baku dan tidak perlu pula harus dibuat baku, karena kriteria yang kita ajukan boleh sebebas-bebasnya ( (istilah jawa : sa’karapmu) sehingga dapat makin meneguhkan hati, apalagi diperkuat dengan sholat istikharah malam sebelum mencoblos pagi atau siang hari.  Pemilih yang bergelar Profesor Doktor mungkin beda dengan yang bergelar Magister atau sarjana dan seterusnya ke bawah.  Namun belum tentu pula kriteria yang ditawarkan oleh seorang Profesor Doktor lebih baik dari sarjana dan seterusnya. Sama halnya untuk panelis debat kandidat pemilukada disyaratkan minimal bergelar Doktor. Padahal belum tentu lebih baik dari yang seorang sarjana atau Magister. Sang Doktor atau Profesor saja belum tentu suka mengamati soal politik karena bukan bidangnya.  

Opini politiknya saja di media boleh dikatakan tidak ada. Ada lagi keanehan untuk penguji lelang jabatan provinsi Jambi menurut bocoran yang didapat adalah mereka yang bergelar Profesor Doktor. Belum tentu Profesor Doktor Peternakan paham  tentang spesifikasi jabatan, atau paham tentang psikologi pimpinan. Kembali kepada Diskursus Pemilih cerdas secara kuantitatif,  ini sekedar memberikan referensi yang tidak mutlak harus diikuti, paling tidak pemilih dapat punya standar minimal kriteria yang dapat diajukan. Semakin banyak kriteria yang diajukan dalam melakukan penilaian sendiri semakin baik.  Penulis ajukan diskursus karena tidak lama lagi, tepatnya tanggal 15 Pebruari 2017 adalah pemilukada serentak di beberapa provinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia.  Penulis berharap kita semua menjadi pemilih yang cerdas.

Walaupun pemilih yang cerdas belum tentu tepat memilih pemenang pemilukada Paling tidak anda sudah menang mengalahkan kebohongan hati nurani. Pengamat politik kelas nasional saja kadang salah dalam prediksi siapa yang bakal menang dalam kancah pemilihan Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati. Apakah kesalahan dalam prediksi ini kita dapat mengatakan pengamat tersebut tidak cerdas? Jawabannya jelas belum tentu. Kemenangan Donald Trump sebagai presiden Amerika Sarikat menjungkir balikkan pendapat pengamat. Kandidat dalam debat kandidat dianggap bagus visi, misi dan programnya, belum jaminan menang dalam pemilukada.  Banyak faktor misteri dalam kemenangan seseorang dalam pemilukada.  Dalam ensiklopedia Indonesia,  dikemukakan bahwa pemilih cerdas adalah pemilih yang dapat menentukan kriteria penilaian sendiri tanpa dipengaruhi dorongan uang, keluarga, suku atau orang lain.

Saya menawarkan cara kuantitatif caranya adalah : tentukan kriteria yang anda anggap obyektif yang dapat membandingkan masing-masing kandidat. Misal : jiwa kenegarawannya, integritas kepribadian yang utuh (bukan penampakan yang mengelabui) , prestasi/reputasi, pengalaman birokrat, kemandirian financial, kesederhanaan, inovasi dan kreatifitas, kemampuan komunukasi, popularitas, elektabilitas, chemestry pasangan,  kedekatan dengan rakyat (intensitas menyapa rakyat), dan lain-lain  yang menurut anda penting. Boleh saja standar yang penulis ajukan dianggap tidak sesuai dengan anda dihapus (delete) Selanjutnya bandingkan terhadap masing-masing  pasangan kandiditat. Penulis ingatkan sebelum  mengisi kolom penilian, paling tidak kita harus mendapat informasi yang banyak tentang kandidat-kandidat, baik melalui media massa, media elektronik, dari diskusi-diskusi politik secara resmi sampai diskusi politik di warung kopi (coffe shop). Kalau anda tidak dapat informasi lengkap tentang satu atau beberapa kriteria yang diajukan, sebaiknya hapus (erase) saja. Kandidat gubernur atau bupati bandingkan dengan kandidat gubernur atau bupati. Kandidat wakil gubernur atau wakil bupati dibandingkan juga. Buat matrik khusus untuk calon gubernur atau bupati. Demikian juga untuk wakilnya dibuatkan matriknya dengan memberikan penilaian rentang 10 sd 100. Selanjutnya dijumlahkan kebawah. Berikutnya jumlahkan total nilai gubernur atau bupati dengan wakil gubernur atau Wakil bupati untuk masing2 pasangan. Nilai tertinggi itulah pilihan hati nurani anda.

Bagi pemilih awam, mungkin wacana ini dianggap rumit (jelimet). Tidak usah pusing-pusing, cukup sholat istikharah saja, nama untuk pemilih cerdas jangan pula terlalu percaya dengan kriteria penilaian yang diajukan. Bagi pemilih muslim tetap berserah diri kepada Allah dengan melakukan  keseimbangan melalui sholat istikharah sebelum memilih. Sekali lagi penulis ingatkan bahwa soal pilihan kita tidak menang, itu soal kedua.  Man proposes god  disposes, adagium yang tetap jadi pegangan kita.  Paling tidak  membuat kita  makin terpacu untuk mencari tahu secara mendalam kebenaran hakiki dalam pemilukada, tetap istiqomah dan naluri sebagai pemilih cerdas tidak hanya sebatas memilih, tetapi tetap berlanjut melakukan kontrol terhadap janji-janji (aksesoris) dari para kandidat. Ini paling tidak merupakan referensi untuk pemilukada selanjutnya, apakah kita tetap tidak memilih atau berubah memilih yang bersangkutan untuk periode berikutnya. Bukankah pemilukada ini merupakan proses menggapai kesejahteraan, kita hanya mengetahui alphanya dan tidak akan pernah tahu omeganya. Dinamika  proses yang  akan menjawab semua ini.  Semoga kita menjadi pemilih cerdas dan bukan hanya menang mengalahkan kebohongan hati nurani, tetapi benar-benar memilih pemenang yang tepat dan real.  Akhir semua ini penulis kunci dengan kata persatuan yang bijak, siapapun yang menang adalah kemenangan  kita semua. Wassalam
-------------------------
Penulis adalah Ketua Pengelola Unja Kampus Sarolangun dan Ketua Pelanta (Komunitas Penulis Opini Jambi).