Navarin Karim: Fasha versus PAN

WARTAJAMBI.COM: OPINI - Baru-baru ini saya menampilkan status di face book: “Partai Amanah Nasional (PAN) Jambi tentu akan all Out memperjuangkan siapapun calon yang akan didukungnya dalam Pilwako Jambi. PAN Jambi telah berhasil bangun hegemoni politik dalam pemilukada serentak yang lalu ditiga kabupaten. Jika bisa menang di kota akan kebih mulus nasib petahana dalam suksesi pemilihan Gubernur 2020 yang akan datang. Untuk memenangkan pemilihan gubernur (pilgub) tentu basis kota harus dikuasai”. Ada tanggapan masyarakat yang menarik perlu penuis tampilkan sebagai berikut :“Effiyaldi Simabua membenarkan pendapat penulis dengan alasan kota juga sebagai miniatur propinsi dan dapat dijadikan barometer acuan pemilih. Ria Fitriaty berkomentar luar biasa statusnya dan Asnawi Nawi kemukakan bahwa : penulis selalu terdepan dalam memberikan prediksi”. 

Berdasarkan alasan diatas seolah makin menimbulkan keberanian  penulis dalam menyajikan opini dengan membuat breakdown yang lebih detail lagi. Penulis bukan mencari sensasi, tetapi tidak semarak jika sekarang Fasha yang sangat diunggulkan dalam pemilukada dianggap tidak punya saingan. Bahkan ada pendapat yang lebih ekstrim mengatakan bahwa Fasha akan berhadapan dengan kotak kosong. Jangan terlalu cepat membuat statement demikian. Harus diingat Politik dapat berubah perdetik. Oleh karena itu tidak seru jika Fasha benar-benar berhadapan dengan kotak kosong. Apa kata dunia? Dunia umumnya dan Indonesia khususnya akan berkata : Partai-partai di Jambi gagal melakukan pengkaderan vertikal, sehingga tidak mampu mendukung kadernya sendiri yang rendah popularitas dan elektabilitasnya setelah di survey. Dengan demikian lawan yang sebanding tidak akan terjadi. Penulis terpanggil untuk membuka cakrawala partai-partai untuk lebih berani menampilkan kadernya. Malu dong kalau hanya jadi pengekor, bubarkan ajalah partai yang dimilikinya. Jika ada partai yang berani memunculkan kadernya tentu partai tersebut penulis analogikan sebagai lelaki sejati. Fasha sebagai walikota juga merasa tidak enak kalau lawan ayam sayur dalam bertarung. Sebagai lelaki sejati tentu ia akan mencari lawan sebanding. Fearless (sitir istilah iklan minuman).

Setelah penulis kaji fenomena  hasil pemilukada serentak pertama yang digelar tahun 2016 dan penulis renungkan secara mendalam, maka PAN mempunyai peluang besar memunculkan lawan yang sebanding. Tadinya penulis berharap Sum Indra bisa menjadi lawan sebanding Fasha, dengan asumsi beliau mendapat dukungan PAN dan berpasangan dengan Abudullah Sani. Masih ingat pemilihan walikota tahun 2013 ketika Sum Indra menang di enam kecamatan dan Fasha yang berpasangan dengan Abdullah Sani hanya memenangkan di dua kecamatan yaitu Jambi Timur dan Jambi. Namun kemenangan telak Fasha dan  Abdullah Sani membuat akumulasi kemenangan berpihak kepada Fasha dan Abdullah Sani. Secara legitimate penguasaan area Sum Indra yang berpasangan dengan dr. Maulana, M.KM lebih sebenarnya menang. Ibarat distribusi Normal dalam statistik, perolehan suaranya lebih merata. Di tahun 2013 juga penulis menampilkan opini dengan menganalogikan kemenangan Fasha dengan terminologi “demokrasi lonjong”.  

Ditambah lagi hasil  survey dari sebuah lembaga menunjukkan Fasha masih tertinggi diikuti dengan Sum Indra. Seandainya Sum Indra dapat menggandeng Abdullah Sani, mungkin kemenangan Fasha hanya di Jambi Timur, dengan asumsi Sum Indra mampu memainkan remainder terhadap konstituen lamanya dan Kecamatan Jambi Selatan tetap dikuasai Abdullah Sani. Namun sayang langkah yang ditempuh Sum Indra sudah keliru karena beliau sowan terlebih dahulu ke mantan gubernur Jambi yang tidak lagi memimpin Partai Demokrat. Sum Indra harus punya partai, orang berpolitik tidak punya partai ibarat ikan yang berada diluar air. Akhirnya klepek-klepek dan mati. Melihat manuver ini, penulis kira ketua partai tentu kurang simpatik, membuat luka lama seolah terasa pedih kembali. Lirik lagu Ebiet G. Ade mengatakan :”kau sayat luka baru diatas luka lama, coba kau bayangkan betapa sakitnya”,  Sehingga Ketua PAN Jambi mengatakan secara diplomatis : Sum Indra harus mengikuti mekanisme partai, sehingga pupuslah harapan.

Namun harus diingat, PAN mulai menampilkan sosok H. Bakri yang berkiprah di DPR pusat, beliau dikenal sebagai pejuang loby-loby proyek pembangunan infrastruktur (baca :  transportasi) di beberapa kabupaten, termasuk juga mungkin kota Jambi. Kalau yang bersangkutan turun gunung dari DPR RI menuju kompetisi Pilwako Jambi tentu akan seru, dengan catatan mampu memilih pasangan  yang tepat, bukan tidak mungkin mendapat lawan sebanding. PAN sudah membuktikan all out memperjuangkan kadernya dalam pemilukada serentak yang lalu. Paling tidak sudah berhasil membangun hegemoni politik, secara geopolitik tiga daerah sudah dia kuasai yaitu kabupaten Muara Jambi, kabupaten  Tebo dan Kabupaten Sarolangun. Tinggal selangkah lagi, jika beliau mampu memenangkan calonnya dalam  pemilihan walikota Jambi, maka semakin muluslah langkah beliau dalam suksesi Pemilihan Gubernur 2020, Tentu beliau akan all out, karena kota adalah basis yang merupakan barometer politik bagi daerah lain dalam menentukan pilihan, walaupun sekarang masyarakat sedang gonjang-ganjing menuntut  janji politik beliau setelah dua tahun banyak yang belum terealisir.

Kepada Fasha jangan merasa jumawa terlebih dahulu, tentu tim tank-nya perlu tetap bekerja keras jika ingin tetap petahana bisa mempertahankan kemenangan dalam pemilihan walikota 2018. Catatan juga bagi Fasha, jangan membuat kebijakan yang tidak populer jelang pemilihan walikota 2018, karena secara tidak langsung akan menurunkan elektabilitas. Memang dalam berpolitik jantung  akan selalu berdetak lebih kencang,  seperti genderang mau pecah yang dikemukakan Ahmad Dani dalam lirik lagunya Sedang ingin bercinta.
--------------------------
Penulis adalah Dosen Fisipol Unja, Ketua Pengelola Unja Kampus Sarolangun dan Ketua Penulis Opini (Pelanta) Jambi.