DPP Jaringan Media Nasional (JAMAN) Akan Memonitor dan Mempublikasi Pertunjukan Teater Anak yang Hilang

WARTAJAKARTA.CO.ID: JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat Jaringan Media Nasional, JAMAN, Organisasi Pers yang berkedudukan di Jakarta, mengadakan  pekerjaan monitoring dan publikasi kepada pertunjukan teater dengan judul "Anak Yang Hilang" sejak ditandatanganinya perjanjian kerjasama pada tanggal 20 Oktober 2017 yang lalu. 

Bendahara Umum DPP Jaman,  Dyan Sevika dan Ketua Lembaga Hukum DPP Jaman, Hendry Wilman Gultom, SH akan memonitor semua proses pekerjaan monitoring mulai dari perijinan,  Pengajuan Proposal kepada Instansi Pe. merintah, menyusun laporan perkembangan atas pengajuan permintaan bantuan kepada pemerintah hingga publikasi yaitu pemberitaan ke seluruh media -  media  yang sudah menjadi Kemitraan di DPP Jaman. 
Pertunjukan teater dengan judul "Anak Yang Hilang" akan berlangsung pada tanggal 5 dan 6 Januari 2018 bertempat di Gedung Pusat Perfilman Haji  Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta. 

Rencana pertunjukan teater Ini sudah sejak bulan Juli 2016 yaitu dengan mendatangkan Pelatih teater, Sutradara, Astrada, dan Penata artistik dari Jakarta ke Yayasan Siskolinora Panti Asuhan Putri Santa Angela  yang berada di Medan, Sumatera Utara. 

Sebanyak 26 anak dan remaja teater Santa Angela dari Sumatera Utara setelah berlatih dengan penuh disiplin dan akan berangkat ke Jakarta guna unjuk kebolehan bergabung dengan teman-temannya dari Teater Katak dan Teater Efford yang berada dan berlatih di Jakarta untuk selanjutnya berkabolarasi pada tanggal 4 Januari 2018 berupa latihan Glady Kotor. 

DPP Jaman perlu memonitor pertunjukan ini dan meminta Pemerintah Daerah Sumatera Utara ikut perduli dan mendukung acara pertunjukan ini karena ini adalah kali pertama terjadi sebuah Yayasan Panti Asuhan berusaha untuk mandiri dengan memposisikan sebagai Subjek yang berhak memperoleh kemerdekaan dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketergantungan. 

Pemerintah daerah Sumatera Utara harus bangga ada anak anak panti asuhan yang sudah berlatih dengan disiplin tinggi untuk membawa akar budaya daerahnya pada pertunjukan teater di Jakarta. Dengan berbagi pengalaman dan berkabolarasi pada teman-temannya yang  berdampak adanya semangat, suka cita,  dan keberhasilan dalam aktifitas intelektual, spiritual dan estetika menunjukan keragaman dan kebhinekaan. 

Di Jakarta,  remaja-remaja yaitu teater Katak dan teater Efford membuat jadwal latihan di 2 (dua) tempat berbeda, dengan jadwal yang sangat ketat untuk membangun disiplin diri dan totalitas pertunjukan. Teater Katak yang resmi diluncurkan pada tanggal 12 Juni 2009 hingga saat ini telah mempertunjukan beberapa naskah terkenal dari seluruh dunia dengan berapresiadi di beberapa tempat pertunjukan teater di Jakarta. 
Teater Efford banyak menampilkan pertunjukan dengan mengusung tema berupa nilai-nilai kemanusiaan. Teater yang dibentuk pada tahun 2016 sering tampil di acara acara keagamaan di Gereja

Teater Katak dan teater Efford adalah contoh teladan yang nyata,  Anak anak remaja yang sudah cukup baik namanya dalam pertunjukan pertunjukan teater di Jakarta ikut ambil bagian dalam berbagi ilmu dan pengalaman kepada adik adik dan rekannya dari daerah. Mengajak mereka terbangun dari mimpinya lewat nilai kebudayaan pertunjukan teater. Teater Katak dan teater Efford mengajak teater Santa Angela berkabolarasi untuk sebuah pertunjukan yang tanpa ragu mengedepankan  nilai nilai kebudayaan daerah Sumatera Utara untuk bisa dihadirkan di Jakarta. 

Dewan Pimpinan Pusat Jaringan Media Nasional akan mendampingi Yayasan Panti Asuhan Siskolinora, teater Santa Angela, Teater Katak, teater Efford, para volunter dari berbagai divisi yang berbeda, para pencetus Ide dan gagasan, para penari dan pemusik tradional, para penyanyi paduan suara anak anak dan remaja untuk dapat tampil dalam pertunjukan teater "Anak Yang Hilang"  dengan meminta pemerintah dan instansi terkait memfasilitasi dari segala hal yang mereka butuhkan yaitu keselamatan, kenyamanan, kemudahan dan kesempatan untuk dapat menjembatani  contoh kecil kebhinekaan dan anak remaja yang ingin berkreatifitas  menghindari radikalisme lewat kegiatan kebudayaan yaitu pertunjukan teater.(Eva Andryani)